Mengenal Wayang Plastik Fiber Bandung, Gambar Motekar, Wayang Kakufi dan Wayang Tavip

Siapa sih yang tidak mengenal wayang atau seni pertunjukan wayang? Semua orang Indonesia pastinya sudah tahu tentang wayang.

Wayang yang terkenal di Indonesia ada tiga jenis. Wayang yang pertama adalah wayang kulit, yaitu wayang yang terbuat dari kulit (kerbau,sapi) berbentuk dua dimensi yang di bentuk dengan cara di tatah sungging dan diwarnai dengan berbagai warna. Untuk mengapresiasi pertunjukan wayang kulit ini biasanya yang dilihat adalah bayangan hitam wayang di balik kelir (layar). Wayang yang kedua adalah wayang golek, yang memiliki bentuk tiga dimensi terbuat dari kayu. Untuk mengapresiasi bentuk pertunjukan wayang ini bisa di lihat langsung tanpa menggunakan layar. Wayang yang ketiga adalah wayang orang, dimana semua wayang yang dimainkan oleh para aktor wayang. Sajian pertunjukan wayang orang ini sama halnya dengan pertunjukan drama, kabaret, teater di atas pentas. Tapi apakah ada yang tahu dengan keberadaaan wayang yang terbuat dari plastik fiber?

Pertama Mengenal Wayang Plastik Fiber Bernama “Wayang Tavip”

Tahun 2010, pertama kali saya melihat wayang plastic fiber ini dipertunjukan di GK. Sunan Ambu ISBI Bandung (waktu itu namanya STSI). Dalam pertunjukannya yang terlihat seperti bukan pertunjukan wayang, namun sebuah pertunjukan drama anak yang dikolaborasi dengan video animasi. Tetapi dilihat dengan seksama anggapan adanya video animasi dalam pertunjukan tersebut hilang, karena itu semua adalah bayangan warna yang dihasilan dari wayang yang terbuat dari plastik dan telah di warnai.

Kenapa bisa seperti itu? Kenapa menghasilkan bayangan berwarna? Pertanyaan tersebut menempel selama pertunjukan berlangsung. Setelah menilik lebih dekat pasca pertunjukan, wayang tersebut dimainkan oleh anak-anak dan di sutradai oleh bapak M. Tavip seorang dosen di jurusan Seni Rupa ISBI Bandung. Ya wayang tersebut merupakan hasil eksperimen kreatif oleh M. Tavip bersama rekan-rekannya dan wayang yang dipertunjukan tersebut bernama Wayang Tavip.

Wayang Tavip merupakan wayang jenis baru yang ada di Indonesia khususnya di Bandung. Dibuat dengan bahan plastik fiber dan plastik bekas air mineral botol yang diwarnai dengan cat tertentu. Dalam tampilan pertunjukannya sama halnya dengan pertunjukan wayang kulit dimana apresiator dapat melihat bayangan wayang di balik layar. Namun yang membedakan antara pertunjukan wayang kulit dan wayang Tavip ini adalah dari bayangan yang dihasilkan. Bayangan wayang kulit berwarna hitam sedangkan bayangan yang dihasilkan oleh berwarna sesuai dengan warna yang ada pada wayangnya. Efek bayangan berwarna tersebut dihasilkan dari lampu khusus, layar, dan bahan wayang yang digunakan dalam pertunjukan.

Pertunjukan Wayang Tavip.

Pertunjukan Wayang Tavip. Salah satu adegan dalam lakon Jekie dan Jenie 1001 malam
“Gunungan, International Mask & Puppet Festival di Bale Pare Bumi Parahiangan Padalarang 2012”

Mohammad Tavip atau lebih dikenal dengan M. Tavip, lahir di Gunung Sugih, Lampung pada tanggal 27 Oktober 1965. Profesi kesehariannya adalah sebagai dosen tetap di Jurusan Seni Rupa, Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung Sekarang ISBI. M. Tavip tinggal di Komp. Delima Endah VI. No. 5/6 Baleendah Kab. Bandung. Rumah yang ditempati, sekaligus sebagai tempat berkarya dalam membuat karya seni seperti kostum pertunjukan dan Wayang Tavip.

Latar Belakang Adanya Wayang Plastik di Bandung

Setelah menelusuri tentang keberadaan wayang Tavip, ternyata sebelumnya ada wayang yang telah tercipta dengan bahan yang sama. Wayang Tersebut adalah Gambar Motekar yang di ciptakan Oleh Herry Dim. Dengan kata lain Wayang Tavip tercipta dari jenis wayang yang telah ada sebelumnya. M. Tavip menciptaan Wayang Tavip merupakan hasil eksplorasi kembali terhadap jenis wayang plastik yaitu Gambar Motekar dan Wayang Kakufi. Adanya kedua wayang tersebut, M. Tavip berandil besar dalam proses kreatif penciptaannya.

Gambar Motekar Ciptaan Herry Dim merupakan jenis wayang plastik fiber pertama kali tercipta di Bandung. Jenis wayang yang merupakan terobosan baru terhadap dunia seni pertunjukan bayangan yang ada di Indonesia. Seni pertunjukan Gambar Motekar merupakan seni pertunjukan bayang-bayang yang dapat memunculkan bayangan berwarna ketika dimainkan. Adanya Gambar Motear dengan menghasilkan bayangan berwarna terinspirasi dari Gambar Kelosan dan Gambar Toong yang merupakan permainan ketika Herry Dim masa kecil. Lahirnya Gambar Motekar, merupakan suatu kebetulan ketika bermain cahaya dengan sejumlah anak. Ketika itu Herry Dim berkeinginan untuk menciptakan sesuatu karya seni yang murah, sederhana dan tidak terlalu mengandalkan teknologi. Akhirnya pada tahun 1998 suatu kebetulan dan ketidaksengajaan itu terjadi gambar dan bayang-bayang dapat dihasilkan dari penemuan tersebut. Terciptanya Gambar Motekar atas eksplorasi dari beberapa orang, salah satunya M. Tavip. Dalam eksplorasinya terhadap Gambar Motekar, M. Tavip berhasil menemukan lampu dan jenis kain yang cocok untuk pertunjukan Gambar Motekar.

Tokoh si Acung dalam pertunjukan Gambar Motekar.

Wayang selanjutnya yang memiliki jenis bahan yang sama adalah wayang Kakufi yang tercipta pada tahun 2008 karena adanya undangan dari dari Yunani untuk mengikuti acara International Puppet & Mime Festival of Kilkis. Wayang kakufi merupakan singkatan dari wayang kayu (Golek), wayang kulit dan wayang plastik fiber. Dalam pertunjukan wayang kakufi ini menggabungkan ketiga wayang tersebut. Wayang Kakufi diprakarsai oleh Arthur S. Nalan, seorang budayawan sekaligus dosen di STSI/ISBI Bandung. Peranan M. Tavip dalam terciptanya Wayang Kakufi ini adalah membuat Gambar Motekar dan perlengkapan pertunjukannya untuk di bawa ke Yunani. Gambar Motekar dibuat berdasarkan atau hasil foto pada wayang kulit.

Tahun 2010 M. Tavip mengeksplor kembali wayang plastik fiber dengan mandiri. Pengeksplorasian kembali pertunjukkan wayang tersebut dikarenakan M. Tavip akan menempuh Ujian Akhir S.2 Penciptaan Karya Seni di ISI Surakarta. Dalam eksplorasi tersebut M. Tavip banyak menemukan perubahan dalam pertunjukkan wayang yang pernah diikutinya. Seperti lampu yang digunakan sudah tidak lagi meggunakan jenis lampu motor, melainkan lampu helogen. Lampu yang digunakan dalam pertunjukkannya memakai 10 lampu bahkan sampai 12 lampu. Layar digunakan sudah menggunakan kain jenis parasit yang mengandung latek. Rupa wayang yang lebih modern, karena dalam beberapa tokoh wayang ada yang menggabungkan dari gambar free hand, foto tokoh-tokoh tertentu dan lakon yang dibawakan merupakan imajinasi M. Tavip yang dimasukan unsur-unsur berita kejadian yang fenomenal sekarang ini di Indonesia.

Penamaan Wayang Tavip diberikan oleh Nano Riantiarno yang pada saat itu merupakan sebagai pembimbing pengkaryaan S2 nya M. Tavip. Awalnya Wayang ini akan diberikan nama Wayang Plastik karena bahan yang digunakan terbuat dari bahan plastik transparan atau meneruskan dari nama Gambar Motekar, karena wayang ini inspirasinya dari wayang tersebut. Tetapi Nano Rianiarno tidak menyetujuinya, karena penamaan Wayang Plastik nantinya masyarakat akan terpaku pada media yang digunakan yaitu plastik, sedangkan media yang digunakan wayang ini bukan dari plastik secara umum melainkan dari plastik transparan yang kaku. Selain dari itu peralatan yang digunakan kini lebih pariatif dan berbeda dengan peralatan Gambar Motekar dan Wayang Kakufi. Dari saran-saran itulah, M. Tavip meresmikan nama Wayang Tavip sebagai hasil pembaharuan dari Gambar Motekar dan Wayang Kakufi.

Wayang jenis baru yang terbuat dari plastik fiber ini memiliki prinsip dasar pertunjukan yang sama yaitu sumber cahaya, benda transparan dan layar proyeksi. Adanya kesamaan media wayang, dikarenakan kreator kedua jenis wayang tersebut mempunyai peranan andil dalam terciptanya jenis wayang media plastik fiber ini. Sehingga dalam kurun waktu yang tidak lama dari terciptanya wayang fiber pertama muncullah jenis wayang sejenis dengan nama yang berbeda. Kedua jenis wayang tersebut diciptakan dari tangan-tangan kreator dengan latar belakang pendidikan yang sama yaitu berlatar belakan pendidikan teater di institusi pendidikan STSI/ISBI Bandung dan mereka mempunyai kedekatan pertemanan antara satu kreator dan kreator yang lainnya.

Sumber Foto : Irpan Riana, Herry Dim

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published.

Theme developed by TouchSize - Premium WordPress Themes and Websites