Bakpia Kukus, Oleh-Oleh Tradisional Kekinian Kota Jogja

“Cake-nya lucu, bulat bentuknya.”

Begitulah yang dikatakan oleh Manda, seorang anak berusia sekitar 8 tahun yang kami temui saat membeli oleh-oleh di Bakpia Tugu. Sembari melahap sepotong bakpia rasa keju, tangan kanannya siap mengambil satu bakpia lagi yang ada di dalam boks.

Namanya memang Bakpia Tugu. Namun ketika Anda membuka kemasannya, Anda tak akan menemukan sepotong bakpia yang biasa Anda kenal selama ini. Bila bakpia pada umumnya memiliki tekstur kulit yang keras di luar dan lembut di bagian isi, maka bakpia tugu memiliki tekstur yang lembut di bagian dalam, dan juga lembut di luar.

Proses pembuatannya pun sebetulnya di luar pakem. Panganan yang terinspirasi dari kue Tou Luk Pia dari Tiongkok ini pada umumnya dibuat dengan cara dipanggang. Sementara itu, bakpia kukus tentunya dibuat dengan cara mengukus adonan basah.

Adaptasi rasa bakpia konvensional

Awalnya, bakpia dijual hanya dengan pilihan rasa kacang hijau pada bagian isi. Seiring dengan perkembangan zaman, varian rasa lain pun ditambahkan. Mulai dari keju, kacang merah, hingga cokelat. Pilihan serupa juga digunakan oleh Bakpia Tugu.

Tak ingin menghilangkan khazanah raksa bakpia konvensional, Bakpia Tugu memberikan pilihan-pilihan rasa yang sama. Ada kacang hijau, kacang merah, keju, serta tentunya cokelat. Untuk yang terakhir ini, peminatnya cukup banyak. Pasalnya rasa dan teksturnya jadi serupa dengan panganan brownies. Namun, pilihan rasa lain juga cukup laris diserbu pembeli.

Bedanya, isi dari Bakpia Tugu kukus ini bertekstur serupa selai. Berbeda dengan bakpia konvensional yang isiannya bertekstur layaknya pasta kasar yang mengeras. Bisa dibilang, Bakpia Tugu memiliki kesamaan konsep dengan cemilan Tokyo Banana -sebuah cemilan Jepang berbentuk pisang dengan tekstur spons dan isian selai pisang- tetapi tentunya dengan cita rasa asli Indonesia.

Panganan nan lembut ini dikemas di dalam sebuah kotak dan dijual per sepuluh potong. Satu kotaknya dijual dengan harga Rp 25.000,00 untuk rasa kacang hijau dan kacang merah. Sementara itu, untuk rasa keju dan cokelat, harga yang dibanderol sebesar Rp 30.000,00. Secara umum, harga yang ditawarkan cukup ekonomis.

Menjadikan Bakpia Tugu Begitu Yogyakarta

Tampak Depan Toko Bakpia Kukus Tugu Jogja.

Terletak di Jalan Kaliurang, Bakpia Tugu terlihat sangat berkomitmen dalam menjadikan produknya sebagai sebuah oleh-oleh yang akan selalu mengingatkan para turis akan kota Yogyakarta. Hal tersebut bisa dilihat dari konsep toko dan berbagai ornamen yang di dalamnya. Mulai dari miniatur Tugu Yogyakarta, kasir dengan konsep angkringan, hingga becak yang menjadi hiasan di sudut toko. Kemasan boks dan plastik Bakpia Tugu pun juga dihiasi dengan desain batik.

Komitmen kuat ini juga ditunjukkan lewat promosi Bakpia Tugu via media sosial. Dalam akun Instagram @bakpiatugujogja, Bakpia Tugu tidak hanya mempromosikan bakpia kukus yang mereka produksi, tetapi juga mempromosikan berbagai lokasi wisata di Yogyakarta dan juga pertunjukkan di kota pelajar yang satu itu. Contohnya seperti Sendratari Ramayana yang ikonik dan Bukit Jangkang. Meskipun begitu, kutipan-kutipan dalam Instagram ditulis dengan bahasa selingkung nan santai dan sangat berjiwa muda. Di sini, ada kesan bahwa Bakpia Tugu bermaksud untuk merangkul para generasi milenial agar tertarik dengan kearifan lokal kota Yogyakarta. Untuk para generasi muda Yogyakarta, hal ini bisa jadi sebuah edukasi bagi mereka untuk mencintai kota kelahirannya sendiri dan mengetahui betapa kerennya kota ini.

Inilah yang dinamakan mengikuti perkembangan zaman. Mempromosikan Yogyakarta tak selalu hanya dengan balutan kalimat-kalimat nan kaku dengan kesan tradisional. Yogyakarta tumbuh, sama seperti hal-hal lain di dunia ini.

Mempermudah Pembelian Oleh-Oleh di Mana Saja

Selain promosi ‘kekinian’ via media sosial, konsep unik juga ditawarkan oleh Bakpia Tugu lewat sistem penjualan mereka. Bila oleh-oleh lain hanya menawarkan sistem beli-di-tempat, maka Bakpia Tugu juga menawarkan sistem yang mempermudah pembeli di seluruh penjuru Indonesia untuk menikmati gaya baru bakpia asal Kota Yogyakarta.

Sistem tersebut tak lain adalah sistem pesan antar. Anda bisa menghubungi nomor resmi yang tertera dalam situs Bakpia Tugu, dan Bakpia Tugu pun akan sampai ke rumah Anda dengan selamat. Anda tak perlu selalu jauh-jauh pergi ke Yogyakarta untuk merasakan lembutnya oleh-oleh yang satu ini.

Bakpia Tugu pun juga membuka kesempatan bagi orang-orang yang ingin bekerja sama dan turut menual produk mereka. Sistem ini, dilihat dari segi pemasaran, jelas merupakan ide yang cemerlang. Maka, tidak mengherankan apabila di usianya yang bahkan belum mencapai 1 tahun, Bakpia Tugu sudah cukup terkenal di tengah masyarakat dan digemari oleh mereka.

Meski begitu, oleh-oleh ini tidak tahan lama. Satu pak Bakpia Tugu hanya bisa bertahan selama satu minggu saja. Bila Anda mengonsumsinya setelah melewati batas kadaluarsa, rasanya akan menjadi kecut sekaligus pahit di waktu yang sama. Ini bisa jadi sebuah kekuarangan dan juga kelebihan.

Kekurangannya jelas, ini bukan makanan yang bisa disimpan dalam jangka waktu lama sebagai stok cemilan. Namun kelebihannya, panganan yang satu ini terbukti dibuat dari bahan-bahan alami dan bebas pengawet. Selain lezat, makanan ini pun juga sehat dan tidak berbahaya bagi lambung kita.

Merusak citra bakpia konvensional?

Masih lekat tentunya dalam benak kita tren oleh-oleh khas daerah besutan para selebritas yang punya tema serupa: cake. Di manapun mereka membuka toko oleh-oleh, toh oleh-olehnya itu-itu saja. Hanya cake yang dirias sedemikian rupa dan diberi nama-nama tradisional agar nampak seperti panganan khas daerah.

Dalam berbagai forum Internet, kondisi ini sempat dikritik. Cake buatan para selebritas dianggap tak mencerminkan budaya daerah yang bersangkutan dan tidak mengandung unsur kearifan lokal. Cake-cake tersebut seolah bisa dibeli di mana saja dan tidak membuat kita mengingat kekhasan suatu daerah.

Beruntungnya, Bakpia Tugu tidak terkena klaim yang satu ini. Selain terlepas dari ‘kekuatan’ nama selebritas yang viral dan dikenal oleh banyak orang, Bakpia Tugu memang punya konsep yang berbeda dengan cake-cake ‘kekinian’ tersebut. Bakpia Tugu tak pernah mengklaim dirinya sebagai bakpia terbaik. Bahkan, Bakpia Tugu membedakan dirinya dengan bakpia konvensional, dengan menyematkan kata ‘kukus’ dalam namanya.

Oleh-oleh ini jelas tak akan pernah bisa menggantikan bakpia konvensional. Selain jauh lebih tua, bakpia konvensional sudah terpatri di benak para turis sebagai oleh-oleh asli Yogyakarta. Lagipula, karakteristik keduanya pun berbeda. Dan hanya masalah waktu saja sampai Bakpia Kukus Tugu diidentikkan selalu dengan kota Yogyakarta.

Karena toh, Bakpia Tugu membuktikan bahwa eksistensinya semakin jelas saja dengan pembukaan toko baru di Stasiun Lempuyangan. Ini adalah sebuah hal yang menunjukkan bahwa Bakpia Tugu diminati oleh para turis, dan menjadi alternatif oleh-oleh baru dari Kota Yogyakarta. Tentunya, tidak akan pernah menggeser tempat bakpia konvensional, hanya pangsa pasarnya berbeda saja.

Bakpia Kukus Tugu Jogja

Sumber Foto : Intan Kirana

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published.

Theme developed by TouchSize - Premium WordPress Themes and Websites